Selasa, 29 Mei 2012
tugas hygiene dan sanitasi dedline tgl 1 juni 2012
HUBUNGAN KEBERSIHAN ADALAH SEBAGIAN DARIPADA
IMAN DENGAN HYGIENE DAN SANITASI.
A. Definisi.
1.
Definisi Higiene
Kata Higiene berasal dari Bahasa Yunani "hygieine" (artinya healthfull = sehat), seorang nama dewi kesehatan Yunani (Hygieia).
Beberapa definisi Higiene adalah:
Higiene adalah seluruh kondisi atau tindakan untuk meningkatkan kesehatan (a condition or practice which promotes good health). Higiene adalah tindakan-tindakan pemeliharaan kesehatan (the maintanance of healthfull practices). Higiene adalah ilmu yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan (the sciene concerned with the prevention of illness and maintanance of health).
Pengertian higiene saat ini terkait teknologi mengacu kepada kebersihan (cleanliness). Higiene juga mencakup usaha perawatan kesehatan diri (higiene personal), yang mencakup juga perlindungan kesehatan akibat pekerjaan.
Kata Higiene berasal dari Bahasa Yunani "hygieine" (artinya healthfull = sehat), seorang nama dewi kesehatan Yunani (Hygieia).
Beberapa definisi Higiene adalah:
Higiene adalah seluruh kondisi atau tindakan untuk meningkatkan kesehatan (a condition or practice which promotes good health). Higiene adalah tindakan-tindakan pemeliharaan kesehatan (the maintanance of healthfull practices). Higiene adalah ilmu yang berkaitan dengan pencegahan penyakit dan pemeliharaan kesehatan (the sciene concerned with the prevention of illness and maintanance of health).
Pengertian higiene saat ini terkait teknologi mengacu kepada kebersihan (cleanliness). Higiene juga mencakup usaha perawatan kesehatan diri (higiene personal), yang mencakup juga perlindungan kesehatan akibat pekerjaan.
2. Definisi
Sanitasi
Sanitasi adalah usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut.
Terkait makanan, sanitasi didefinisikan sebagai penerapan atau pemeliharaan kondisi yang mampu mencegah terjadinya pencemaran (kontaminasi) makanan atau terjadinya penyakit yang disebabkan oleh makanan (foodborne illness atau foodborne disease).
Sanitasi adalah usaha pencegahan penyakit dengan cara menghilangkan atau mengatur faktor-faktor lingkungan yang berkaitan dengan rantai perpindahan penyakit tersebut.
Terkait makanan, sanitasi didefinisikan sebagai penerapan atau pemeliharaan kondisi yang mampu mencegah terjadinya pencemaran (kontaminasi) makanan atau terjadinya penyakit yang disebabkan oleh makanan (foodborne illness atau foodborne disease).
Jadi dalam hal ini sanitasi ditujukan kepada
lingkungannya, sedangkan hygiene ditujukan kepada orangnya.
Sanitasi : Usaha kesehatan prevenif yang menitikberatkan kegiatan kepada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
Hygiene : Usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kesehatan individu, maupun usaha kesehatan pribadi hidup manusia.
Sanitasi : Usaha kesehatan prevenif yang menitikberatkan kegiatan kepada usaha kesehatan lingkungan hidup manusia.
Hygiene : Usaha kesehatan preventif yang menitikberatkan kegiatannya kepada usaha kesehatan individu, maupun usaha kesehatan pribadi hidup manusia.
B. Kebersihan adalah sebagian daripada iman.
Kebersihan adalah penampilan fisik jasmani, sementara iman adalah tertanam dalam hati sebagaimana hadis Rasulullah saw :
“ Iman, adalah keyakinan yang tertanam dalam hati, dan dibuktikan dengan perilaku nyata”.
Sehingga kebersihan adalah perwujudan nyata dari sekian perwujudan iman. Dan kebersihan adalah duta sekaligus juru bicara iman.
Kebersihan adalah penampilan fisik jasmani, sementara iman adalah tertanam dalam hati sebagaimana hadis Rasulullah saw :
“ Iman, adalah keyakinan yang tertanam dalam hati, dan dibuktikan dengan perilaku nyata”.
Sehingga kebersihan adalah perwujudan nyata dari sekian perwujudan iman. Dan kebersihan adalah duta sekaligus juru bicara iman.
“Kebersihan
adalah sebagian dari (cabang) keimanan.” (H.R Muslim no: 223)
Yang
dikehendaki dengan keimanan, menurut ath-Thaibi dalam hadits di atas adalah
‘cabang keimanan’. Dari jumlah cabang iman yang begitu banyak, bersuci adalah
salah satunya. Pemahaman ath-Thaibi didasarkan pada sebuah hadits yang menaytakan
“Keimanan itu berjumlah lebih dari tujuh puluh cabang”. Lebih jelasnya,
at-Thaibi menuturkan, kebersihan lahir merupakan tanda akan kebersihan batin.
Kondisi yang tampak (lahir) merupakan cerminan dari yang tidak tampak (batin).
Jika membersihkan anggota lahir dapat mensucikan dari najis dan hadats, begitu
pula kebersihan batin (dengan cara bertaubat) akan dapat menghantarkan pada
kekuatan Iman kepada Allah. Karena alas an inilah, Allah merangkai taubat
dengan kebersihan dalam Firman-Nya:
C. إن الله يحب التوابين ويحب المتطهرين (البقرة: 222)
“Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dang menyukai orang-orang yang
mensucikan diri.” (Q.S Al-Baqarah: 222)
Al-Ghazali
memaparkan empat tingkatan dalam kebersihan.
· Yang pertama adalah kebersihan anggota
lahir dari hadats dan kotoran-kotoran. Tingkat pertama ini adalah batas minimal
yang harus dimiliki oleh setiap orang yang akan mengerjakan ibadah shalat.
· Tingkat kedua adalah kebersihan
anggota tubuh dari dosa dan kejahatan.
· Ketiga, kebersihan hati dari
akhlak tercela dan sifat-sifat yang dimurkai.
· keempat, kebersihan sir (hati)
dari selai Allah.
Keempatnya dianggap sama pentingnya
dalam ajaran agama Islam. Namun demikian, dalam pandangan al-Ghazali dan para
tasawwuf lainnya, tingkat keempat ini merupakan puncak dari berbagai tingkatan
kebersihan yang ada di dalam Islam. Kebersihan hati sangatlah penting. Karena
dengan hati yang bersih seseorang akan mudah tergerak untuk melakukan kebaikan.
Oleh karena itu, kebersihan hati merupakan dasar segala perbuatan baik yang
paling harus menjadi prioritas.
C. Hubungan antara hygiene dan sanitasi dengan
semboyan kebersihan adalah sebagian
daripada iman.
Kebersihan diyakini
dalam hai bahwa kebersihan adalah hal yang benar dan dibuktikan lewat perbuatan
dengan menjaga kebersihan diri, makanan, maupun lingkungan dan ilmu yang mempelajari
kebersihan tersebut adalah ilmu hygiene dan sanitasi.
Maka hubungan
antara slogan tersebut dengan hygiene dan sanitasi adalah bahwa kebersihan
merupakan factor penting dari iman manusia dan higiene dan sanitasi adalah ilmu
yang berisi tentang cara-cara untuk menciptakan dan menjaga kebersihan
tersebut. Oelh karenanya keduanya berhubungan timbal balik.
Senin, 28 Mei 2012
senin 28 mei 2012.. in english class with mr.blady idiet
pelajaran kehidupan yang kudapatkan hari ini dari seorang guru yg memberi dan hanya berharap mendapatkan ilmu yang lebih...
"mestinya kita dapat memberikan kontribusi pada kehidupan... karena kitalah orang2 terpiih... tak harus jauh2... membagi ilmu yang kita miliki dengan menulis pun menjadi sebuah kontribusi yang nyata... katanya:....carilah ilmu2 yang berguna u/ xan... tambahlah ilmu2 xan... kuliah jgn hanya datang, absen, dapet nilai.. uda... lalu apa yang xan dpt?.. harusnya kita mampu mendptkan ilmu2 yang berguna.... dimanapun... tak hanya di bangku kuliah ....
intinya berikan kontribusimu....dan carilah ilmu2 yang berguna u/ mu....
for you my teacher... thanks alot... arigatou gozaimasu for everything...
"mestinya kita dapat memberikan kontribusi pada kehidupan... karena kitalah orang2 terpiih... tak harus jauh2... membagi ilmu yang kita miliki dengan menulis pun menjadi sebuah kontribusi yang nyata... katanya:....carilah ilmu2 yang berguna u/ xan... tambahlah ilmu2 xan... kuliah jgn hanya datang, absen, dapet nilai.. uda... lalu apa yang xan dpt?.. harusnya kita mampu mendptkan ilmu2 yang berguna.... dimanapun... tak hanya di bangku kuliah ....
intinya berikan kontribusimu....dan carilah ilmu2 yang berguna u/ mu....
for you my teacher... thanks alot... arigatou gozaimasu for everything...
Senin, 12 Maret 2012
hanya untuk berbagi...copy dary facebook....semoga bermanfaat..!
Ikhwan GANTENG, Partner Sejati Akhwat???
oleh Nur Khanifah pada 12 Maret 2012 pukul 10:37 ·
Ikhwan dan akhwat adalah dua makhluk Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berbeda. Ikhwan, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan rasionalitasnya karena ia adalah pemimpin bagi kaum hawa. Akhwat, sebagaimana ia, memang diciptakan lebih dominan sensitivitas perasaannya karena ia akan menjadi ibu dari anak-anaknya.
“Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (QS. 9: 71)
Di lapangan, ikhwan dan akhwat harus menjaga hijab satu sama lain, namun tentu bukan berarti harus memutuskan hubungan, karena dalam da’wah, ikhwan dan akhwat adalah seperti satu bangunan yang kokoh, yang sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain.
Belakangan ini menjadi sebuah fenomena baru di berbagai LDK kampus tentang sedikit ‘konfrontasi’ ikhwan dengan akhwat. Tepatnya, tentang kurang cepat tanggapnya da’wah para ikhwan yang notabene adalah partner da’wah dari akhwat.
Patut menjadi catatan, mengapa ADK akhwat selalu lebih banyak dari ADK ikhwan. Walau belum ada penelitian, tetapi bila melihat data kader, pun data massa dimana jumlah akhwat selalu dua sampai tiga kali lipat lebih banyak dibandingkan ikhwan, maka dapat diindikasikan bahwa ghirah, militansi dan keagresifan berda’wah akhwat, lebih unggul. Meski memang hidayah itu dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, namun tentu kita tak dapat mengabaikan proses ikhtiar.
Akhwat Militan, Perkasa dan Mandiri? Sejak kapankah adanya istilah Akhwat militan, perkasa dan mandiri ini? Berdasarkan dialog-dialog yang penulis telaah di lapangan, dan di beberapa LDK, ternyata hampir semua akhwat memiliki permasalahan yang sama, yaitu tentang kurang cepat tanggapnya ikhwan dalam menghadapi tribulasi da’wah. Bahkan ada sebuah rohis yang memang secara turun temurun, kader-kader akhwatnya terbiasa mandiri dan militan. Mengapa? Karena sebagian besar ikhwan dianggap kurang bisa diandalkan. Dan ada pula sebuah masjid kampus di Indonesia yang hampir semua agenda da’wahnya digerakkan oleh para akhwat. Entah hilang kemanakah para ikhwan.
Akibat seringnya menghadapi ikhwan semacam ini, yang mungkin karena sangat gemasnya, penulis pernah mendengar doa seorang akhwat, “Ya Allah…, semoga nanti kalau punya suami, jangan yang seperti itu… (tidak cepat tanggap–red),” ujarnya sedih. Nah!
Ikhwan GANTENG
Lantas bagaimanakah seharusnya ikhwan selaku partner da’wah akhwat? Setidaknya ada tujuh point yang patut kita jadikan catatan dan tanamkan dalam kaderisasi pembinaan ADK, yaitu GANTENG (Gesit, Atensi, No reason, Tanggap, Empati, Nahkoda, Gentle). Beberapa kisah tentang ikhwan yang tidak GANTENG, akan dipaparkan pula di bawah ini.
(G) Gesit dalam da’wah
Da’wah selalu berubah dan membutuhkan kegesitan atau gerak cepat dari para aktivisnya. Ada sebuah kisah tentang poin ini. Dua orang akhwat menyampaikan pesan kepada si fulan agar memanggil ikhwan B dari masjid untuk rapat mendesak. Sudah bisa ditebak…, tunggu punya tunggu…, ikhwan B tak kunjung keluar dari masjid. Para akhwat menjadi gemas dan menyampaikan pesan lagi agar si fulan memanggil ikhwan C saja. Mengapa? Karena ikhwan C ini memang dikenal gesit dalam berda’wah. Benar saja, tak sampai 30 detik, ikhwan C segera keluar dari masjid dan menemui para akhwat. Mobilitas yang tinggi.
(A) Atensi pada jundi
Perhatian di sini adalah perhatian ukhuwah secara umum. Contoh kisah bahwa ikhwan kurang dalam atensi adalah ketika ada rombongan ikhwan dan akhwat sedang melakukan perjalanan bersama dengan berjalan kaki. Para ikhwan berjalan di depan dengan tanpa melihat keadaan akhwat sedikitpun, hingga mereka menghilang di tikungan jalan. Para akhwat kelimpungan.., nih ikhwan pada kemana? “Duh.., ikhwan ngga’ liat-liat ke belakang apa ya?” Ternyata para ikhwan berjalan jauh di depan, meninggalkan para akhwat yang sudah kelelahan.
(N) No reason, demi menolong
Kerap kali, para akhwat meminta bantuan ikhwan karena ada hal-hal yang tidak bisa dilakukan oleh akhwat. Tidak banyak beralasan dalam menolong adalah poin ketiga yang harus dimiliki oleh aktivis. Contoh kisah kurangnya sifat menolong adalah saat ada acara buka puasa bersama anak yatim. Panitia sibuk mempersiapkannya. Untuk divisi akhwat, membantu antar departemen dan antar sie adalah hal yang sudah seharusnya dilakukan. Para akhwat ini kemudian meminta tolong seorang ikhwan untuk memasang spanduk. “Afwan ya…, amanah ane di panitia kan cuma mindahin karpet ini…,” jawab sang ikhwan sambil berlalu begitu saja karena menganggap tugas itu bukanlah amanahnya.
(T) Tanggap dengan masalah
Permasalahan da’wah di lapangan semakin kompleks, sehingga membutuhkan aktivis yang tanggap dan bisa membaca situasi. Sebuah kisah, adanya muslimah yang akan murtad akibat kristenisasi di sebuah kampus. Aktivis akhwat yang mengetahui hal ini, menceritakannya pada seorang ikhwan yang ternyata adalah qiyadahnya. Sang ikhwan ini dengan tanggap segera merespon dan menghubungi ikhwan yang lainnya untuk melakukan tindakan pencegahan pemurtadan.
Kisah di atas, tentu contoh ikhwan yang tanggap. Lain halnya dengan kisah ini. Di sebuah perjalanan, para akhwat memiliki hajat untuk mengunjungi sebuah lokasi. Mereka kemudian menyampaikannya kepada ikhwan yang notabene adalah sang qiyadah. Sambil mengangguk-angguk, sang ikhwan menjawab, “Mmmm….” “Lho… terus gimana? Kok cuma “mmmmm”…” tanya para akhwat bingung. Sama sekali tidak ada reaksi dari sang ikhwan. “Aduh… gimana sih….” Para akhwat menjadi senewen.
(E) Empati
Merasakan apa yang dirasakan oleh jundi. Kegelisahan para akhwat ini seringkali tercermin dari wajah, dan lebih jelas lagi adalah dari kata-kata. Maka sebaiknya para ikhwan ini mampu menangkap kegelisahan jundi-jundinya dan segera memberikan solusi.
Contoh kisah tentang kurang empatinya ikhwan adalah dalam sebuah perjalanan luar kota dengan menaiki bis. Saat telah tiba di tempat, ikhwan-akhwat yang berjumlah lima belas orang ini segera turun dari bis. Dan bis itu melaju kembali. Para akhwat sesaat saling berpandangan karena baru menyadari bahwa mereka kekurangan satu personel akhwat, alias, tertinggal di bis! Sontak saja para akhwat ini dengan panik, berlari dan mengejar bis. Tetapi tidak demikian halnya dengan ikhwan, mereka hanya berdiri di tempat dan dengan tenang berkata, “Nanti juga balik lagi akhwatnya.”
(N) Nahkoda yang handal
Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita. Ia adalah nahkoda kapal. Lantas bagaimanakah bila sang nahkoda tak bergerak? Alkisah, tentang baru terbentuknya kepengurusan rohis. Tunggu punya tunggu…, hari berganti hari, minggu berganti minggu, ternyata para ikhwan yang notanebe adalah para ketua departemen, tak kunjung menghubungi akhwat. Akhirnya, karena sudah “gatal” ingin segera gerak cepat beraksi dalam da’wah, para akhwat berinisiatif untuk “menggedor” ikhwan, menghubungi dan menanyakan kapan akan diadakan rapat rutin koordinasi.
(G) Gentle
Bersikap jantan atau gentle, sudah seharusnya dimiliki oleh kaum Adam, apatah lagi aktivis. Tentu sebagai Jundullah (Tentara Allah) keberaniannya adalah di atas rata-rata manusia pada umumnya. Namun tidak tercermin demikian pada kisah ini. Sebuah kisah perjalanan rihlah. Rombongan ikhwan dan akhwat ada dalam satu bis. Ikhwan di depan dan akhwat di belakang. Beberapa akhwat sudah setengah mengantuk dalam perjalanan. Tiba-tiba bis berhenti dan mengeluarkan asap. Para ikhwan segera berhamburan keluar dari bis. Tinggallah para akhwat di dalam bis yang kelimpungan. “Ada apa nih?” tanya para akhwat. Saat para akhwat menyadari adanya asap, barulah mereka ikut berhamburan keluar. “Kok ikhwan ninggalin gitu aja…” ujar seorang akhwat dengan kecewa.
Penutup
Fenomena ketidak-GANTENG-an ikhwan ini, akan dapat berpengaruh pada kinerja da’wah. Ikhwan dan akhwat adalah partner da’wah yang senantiasa harus saling berkoordinasi. Masing-masing ikhwan dan akhwat memang mempunyai kesibukannya sendiri, namun ikhwan dilebihkan oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, yaitu sebagai pemimpin. Sehingga wajar saja bila yang dipimpin terkadang mengandalkan dan mengharapkan sang qawwam ini bisa jauh lebih gesit dalam berda’wah (G), perhatian kepada jundinya (A), tidak banyak alasan dalam menolong (N), tanggap dalam masalah (T), empati pada jundi (E), menjadi nahkoda yang handal (N) dan mampu memberikan perlindungan (G). Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman, "Kaum laki-laki adalah pemimpin (qawwam) bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita)..." (QS. An-Nisa':34).
Kita harapkan, semoga semakin banyak lagi ikhwan-ikhwan GANTENG yang menjadi qiyadah sekaligus partner akhwat. Senantiasa berkoordinasi. Ukhuwah di dunia, dan di akhirat. Amiin. []
PS : Ayo kita budidayakan (memangnya ternak???) ikhwan GANTENG ini. Dan pada pembahasan selanjutnya, dapat dikupas tentang akhwat CANTIK. Nah, untuk ini, biarkan ikhwan yang menulis ^ _ ^
oleh Ukhti Rahma pada 20 Februari 2012 pukul 11:07
Jumat, 09 Maret 2012
untukmu agar kau tak pantang menyerah...Mr.B.....
keikhlasan adalah semangat yang baik atas niat kita yang INSYAALLAH mulia.
untuk menjalankannya, terkadang berat, melelahkan bahkan menjemukan.
tapi percayalah...segalanya pasti akan membuahkan hasil yang sepadan dengan kerja keras yang telah kita lakukan..
jangan pantang menyerah dalam menjalani hidup...apapun tantangan nya..yakinlah kamu pasti bisa....
GANBATTE KUSADAI...!!!!!!!!
Kamis, 08 Maret 2012
untuk mu....
maafkan aku....
ku tak bisa lebih dari ini, ak tak ingin menyakitinya..kerena kalian saling mencintai...
Jumat, 11 November 2011
sebuah surat untuk ALLAH SWT
YA ALLAH, YA ROHMAN, YA ROHIM,
mengapa di hidup ini harus ada pilihan ya ALLAH, mengapa harus, pilihan-pilihan itu kau tujukan untuk q?
sedangkan hati ini kau ciptakan dengan memiliki perasaan bimbang, ragu2 dan sering kali sulit tuk memutuskan sesuatu.....
bantu aq, hambaMU yang lemah ini ya RABBI,
hari ini kurasakan sebuah kepedihan, ENGKAU tau aq suka sama karate, aq udah memperjuangkan nya dari dulu, terutama terhadap kedua orangtua q, sudah banyak air mata yang ku tumpahkan untuk karate, namun semuanya belum maksimal untuk q, ENGKAU yang maha tau hati ku,
WAHAI TUHAN sang PENGUASA HATI...
aq ingin ikut ujian itu, ingin sekali!
tapi entah mengapa HATI INI BIMBANG, dan pada akhirnya aq menyerah...kalah...
aq ingin memilih jalan MU YA MAAJID...
ridho MU yang aq butuhkan saat ini.................
mengapa di hidup ini harus ada pilihan ya ALLAH, mengapa harus, pilihan-pilihan itu kau tujukan untuk q?
sedangkan hati ini kau ciptakan dengan memiliki perasaan bimbang, ragu2 dan sering kali sulit tuk memutuskan sesuatu.....
bantu aq, hambaMU yang lemah ini ya RABBI,
hari ini kurasakan sebuah kepedihan, ENGKAU tau aq suka sama karate, aq udah memperjuangkan nya dari dulu, terutama terhadap kedua orangtua q, sudah banyak air mata yang ku tumpahkan untuk karate, namun semuanya belum maksimal untuk q, ENGKAU yang maha tau hati ku,
WAHAI TUHAN sang PENGUASA HATI...
aq ingin ikut ujian itu, ingin sekali!
tapi entah mengapa HATI INI BIMBANG, dan pada akhirnya aq menyerah...kalah...
aq ingin memilih jalan MU YA MAAJID...
ridho MU yang aq butuhkan saat ini.................
Langganan:
Postingan (Atom)